Proses Masuknya Islam Di Nusantara
1. Hubungan Pedagang Nusantara dan pedagang dari India, Persia dan Arab
Nusantara berarti negara kepulauan atau wilayah yang terdiri dari pulau-pulau. Nusantara adalah sebutan untuk indonesia baik sebelum atau sesudah kemerdekaan. Karena terdiri dari berpulau pulau, dari dulu wilayah ini terkenal sebagai wilayah yang memiliki banyak pelabuhan. Penduduknya terkenal di dunia maritim sebagai pelaut ulung. Penakluk ombak dan penjelajah lautan.
Pada abad ke-7, pantai pesisir Sumatera telah menjadi kawasan lintas perdagangan bagi pedagang-pedagang Muslim dari India, Persia, dan Arab menuju Tiongkok yang terus berlanjut sampai beberapa abad kemudian. Berarti sejak beberapa abad lalu sudah terjadi interaksi antara para pedagang di Nusantara yang berada di wilayah ini dengan para pedagang yang berasal dari India, Persia dan Arab. Bahkan ada yang menuturkan sejak abad ke-5 M samudera Hindia telah menjadi kawasan berbahasa Arab.
Negara-negara Islam di Timur Tengah memiliki hubungan baik dengan negara negara di Asia Tenggara, termasuk dengan Nusantara. Walaupun masih diperdebatkan kebenarannya, dikabarkan bahwa Kerajaan Sriwijaya Palembang menjalin hubungan baik dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khilafah Bani Umayyah pertama (661 - 680 M) dan Umar bin Abdul Aziz (717 - 720 M) Khalifah ke-8. Jalinan hubungan tidak semata dalam bidang perdagangan, tapi juga dalam bidang politik dan diplomatik.
Pesisir Nusantara dengan pelabuhan-pelabuhannya, selain menjadi wilayah perdagangan antara Tiongkok dan Arab, menjadi ramai dengan kegiatan perdagangan disebabkan juga karena hasil alamnya yang melimpah berupa rempah rempah-rempah dan yang lainnya hingga dijuluki “Harta Karun Asia”. Nusantara dijuluki “Kepulauan Surga” karena keindahan alamnya. Letaknya strategis antara benua Asia dan Australia, serta antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk wilayah lain untuk memburu hasil alamnya dalam kegiatan perdagangan atau hanya sekadar singgah di pelabuhan-pelabuhan pesisir Nusantara yang mereka lewati.
Pelabuhan-pelabuhan yang dimaksud adalah yang terletak di Selat Malaka, Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa, Barus dan Palembang di Sumatera. Khususnya Selat Malaka, sekitar abad ke-7 M sudah menjadi pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Dari Malaka hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibwa ke Cina dan India, terutama Gujarat. Dari Gujarat, pelayaran kapal-kapal dagang bisa langsung menuju LAut Arab yang menghubungkan pelayaran ke Teluk Persia Atau ke Mesir melalui jalan lain. Melalui jalur pelayaran tersebut, kapal-kapal dagang Arab, Persia, dan Gujarat (India) melintasi ke Timur menuju cina dan ke Barat menuju Arab menlitasi Malaka.
Terjadinya hubungan pelayaran dan perdagangan antara negeri-negeri di timur Arab dan yang ada di sebelah barat Asia dengan negeri-negeri di Asia Tenggara khususnya Nusantara (Indonesia) menandakan adanya jalinan hubungan antara tiga kerajaan besar saat itu. Di Asia sebelah Barat ada Daulah Bani Umayyah, di sebelah timur (Cina) ada Dinasti Thang, dan di Asia Tenggara ada Kerajaan Sriwijaya.
Namun demikian, hubungan anatar para pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat (India) yang sudah pasti beragama islam, dengan para pedagang di Nusantara hanya terbatas dalam hubungan dagang semata. Tidak ada data pasti yang menyatakan penduduk pribumi Nusantara yang disinggahi para pedagang dari barat Asia tersebut memeluk agama Islam. Para koloni dagang Muslim dari Persia, Arab, dan Gujarat saat itu datang dan pergi hanya untuk kepentingan niaga atau tinggal beberapa waktu menunggu musim yang cocok untuk pelayaran. Namun demikian, pada masa selanjutnya, para ahli sejarah banyak yang sepakat bahwa agama islam masuk ke Nusantara melalui para pedagang yang berasal dari Arab, Gujarat dan Persia.
Pada awal abad ke-15 M, pelabuhan Malaka, Johor, dan Samudera Pasai jatuh ke Tangan Portugis. Para pedagang Muslim dan para pedagang lainnya yang tidak suka berdagang dengan Portugis, memindahkan jalur perdagangannya menuju pelabuhan Banda Aceh yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh (Aceh Darussalam). Pemindahan jalur dan pusat perdagangan ini membawa pengarus terhadap perkembangan dan peyebaran agama Islam di Aceh. Sultan Aceh saat itu, Sultan Iskandar Sani, banyak mendatangkan ulama-ulama dari Gujarat dan Persia untuk menyebarkan dan mengajarkan Islam pada penduduknya.

EmoticonEmoticon